DEMOKRASI KAMPUS

Oleh : DR. H. Fatah Sulaiman*


                Siklus empat tahunan pesta demokrasi kampus di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), akan kembali dilaksanakan guna memilih Rektor periode 2015 – 2019, seiring akan habisnya masa bakti periode pertama Prof. Dr. H. Sholeh Hidayat MPd selaku  Rektor periode 2011 -2015, yang akan berakhir  Oktober  tahun  2015 ini. Penunjukkan panitia Pemilihan Calon Rektor, penyiapan regulasi tata tertib, penjadwalan dan penyiapan proses pemilihan sudah mulai digulirkan, dan  telah disepakati melalui diskusi intelektual dalam rapat Senat Universitas. Ada substansi yang sangat berbeda antara  sistem demokrasi di kampus  dengan demokrasi di masyarakat kita secara umum yang berbasis partai politik. Perbedaannya yaitu terletak pada regulasi acuan, konstituen, sistem penjaringan dan kondusifitas akademik. Proses demokrasi di dunia kampus, termasuk di Untirta tentu saja punya rule of gamenya sendiri , mengacu kepada Peraturan dan Perundangan yang berlaku termasuk statuta Perguruan Tinggi. Dan tentu saja kekhasan konstituen di kampus yang direpresentasikan oleh para anggota senat dan guru besar yang menjadi Anggota Senat Universitas, merupakan golongan intelektual yang sangat kecil kemungkinan akan melakukan praktek-praktek money politic dalam pemilihan rektor dan  akan memilih kandidat dengan sikap objektif.

Nilai dan Keteladanan Demokrasi

Dunia kampus semestinya menjadi ruang percontohan bagaimana praktek berdemokrasi yang baik secara institusional maupun kultural. Semoga dinamika yang mulai terasa menjelang pemilihan rektor ini, tetap berjalan dalam koridor harmoni dunia akademis. Kampus Untirta bisa tetap jadi wilayah steril yang mampu memperjuangkan nilai-nilai etika akademis, moral dan keteladanan dalam berdemokrasi.

Pesta demokrasi di lingkungan kampus  akan  menjadi barometer demokrasi di ranah sosial. Hasil demokrasi di dalam dunia teoritik (kampus) pada akhirnya akan langsung diuji di level empiris, karena perguruan tinggi/kampus merupakan agen yang mengajarkan  nilai objektivitas, rasionalitas, transparansi, akuntabilitas, keterbukaan, dan kejujuran. Dengan demikian, proses pemilihan rektor Untirta yang akan dilaksanakan tentunya, senantiasa  akan mengedepankan nilai-nilai tersebut. Substansi yang dikembangkan dalam demokrasi kampus adalah kompetisi gagasan dan karya bagi kebaikan sivitas akademika dan masa depan Untirta yang lebih baik.

Harapan Masyarakat Untuk Masa Depan Untirta

Terlepas dari dinamika dan proses  pergerakan yang mewarnai  pesta demokrasi di kampus Untirta, masih banyak pekerjaan rumah  dan tantangan yang menanti untuk dilaksanakan oleh pemimpin yang terpilih nanti dalam mewujudkan masa depan Untirta yang lebih baik. Seperti lingkungan kampus  yang memadai, asri dan nyaman , peningkatan infrastruktur jaringan wifi dan internet untuk penguatan pelayanan terpadu dan effisien,  serta sarana proses belajar mengajar yang akan membuat  nyaman masyarakat kampus untuk belajar dan bekerja.  Pelayanan bermutu kepada mahasiswa, karyawan , dosen dan stakeholders lainnya dalam aktifitas tridharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Riset dan Pengabdian Masyarakat), transparansi  pengelolaan anggaran  dan prioritas kebijakan program, peningkatan kesejahteraan warga kampus dari potensi income generating yang dapat diinisiasi dan dikembangkan  di PTN dengan bentuk Badan Layanan Umum , perluasan jaringan kerjasama nasional dan internasional, serta tentu saja kelengkapan sarana dan prasarana yang representatif dan kondusif.

Kita  sangat mengharapkan siapa pun rektor terpilih nanti,  adalah pemimpin yang benar-benar amanah yang bekerja dengan profesional, bukan pemimpin yang hanya mementingkan pribadinya ataupun pada kelompok tertentu. Sikap terbuka harus dimiliki rektor terpilih dalam memimpin universitas, dalam menerima masukan-masukan konstruktif  bagi upaya bersama dalam memajukan Untirta sebagai kampus ideal dan unggul. Keterbukaan akan menimbulkan kejujuran dan kepercayaan sivitas kampus, sehingga akan terbentuk kerja sama tim untuk mencapai tujuan bersama, harmoni dalam kebersamaan, memiliki kewibawaan akademik dimata masyarakat, baik regional, nasional bahkan International.

Akhirnya kita berharap, siapapun Rektor  Untirta terpilih nanti sebagai output proses demokrasi kampus, dapat menjadikan universitas ini sejajar dengan PTN lain di Indonesia yang maju dan bermutu dalam kualitas layanan akademik dan penyelenggaraan  tridharma Perguruan Tinggi, dan  menjadi kebanggaan bagi warga Untirta khususnya, masyarakat  Banten, serta bangsa Indonesia pada umumnya.

*Penulis adalah Wakil Rektor Bidang Kerjasama, Perencanaan dan Sistem Informasi Untirta, Sekertaris Panitia Pemilihan Rektor Untirta periode 2015-2019